Sebanyak 301 orang yang terdiri dari Ketua maupun
anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Kecamatan Bandar
Masilam untuk Pemilukada Simalungun,telah terseleksi dan seluruh
berkasnya sudah diterima oleh Panitia Pemilian Kecamatan (PPK) Bandar
Masilam untuk kemudian akan diserahkan kepada KPU (27/07).Proses seleksi
penerima KPPS Kecamatan Bandar Masilam yang digelar dan langsung
dikoordinatori oleh PPK ini pun,begitu mendapatkan animo yang kuat dari
masyarakat di 9 Nagori se-Kecamatan Bandar Masilam.Antusias peserta ini
terbukti dari terpenuhinya segala kelengkapan persyaratan peserta yang
mengikuti seleksi ini.
Adapun KPPS dimaksud untuk mengisi TPS yang tersebar pada setiap Huta di Nagori-nagori
se Kecamatan Bandar Masilam berjumlah 43 TPS,masing-masing TPS tersebut
adalah Nagori Bandar Masilam 1 sebanyak 5 TPS,Bandar Masilam 2 sebanyak 4
TPS,Gunung Serawan 6 TPS,Panombean Baru 3 TPS,Bandar Silou 4 TPS,Lias
Baru 3 TPS,Partimbalan 6 TPS,Bandar Tinggi 7 TPS dan terakhir Bandar
Rejo dengan 5 TPS
Jumat, 30 Juli 2010
KPPS Bandar Masilam Lulus Seleksi
Selasa, 27 Juli 2010
Kondisi Topograpi Batubara Bagus Bangun Jalur Rel KA ; 2011 Mulai Pembangunan Rel
Dirjen
Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemhub) Ir Tundjung Inderawan MSi
mengatakan, kondisi topografi Batubara bagus dan sangat memungkinkan
dibangunnnya jalur rel kereta api (KA).
Usai bertemu
dengan Bupati Batubara OK Arya dan staf di RM 100 Sei Suka Jumat (2/7) siang,
Tundjung Inderawan mengaku sudah langsung meninjau lapangan. Tidak ada
rintangan sulit yang menghalang untuk membangun jalur rel KA sebagaimana
program Pemkab Batubara.
Karenanya,
bila pembebasan lahan selesai dilakukan pada enam bulan akhir 2010,
mudah-mudahan pada 2011 jalur rel KA tersebut dapat dimulai pembangunannya.
Rencananya
sepanjang 25 kilometer, sejak dari stasiun Bandar Tinggi Kecamatan Bandar
Masilam Simalungun sampai ke Kuala Tanjung, pinggir pantai timur Sumatera.
Setelah
sampai di kawasan Desa Sei Suka Deras, tepat di Simpang Kuala Tanjung, jalur
rel KA itu menelusuri pinggir jalan khusus sepanjang 16.7 kilometer.
Tunjung
Inderawan yang didampingi Direktur Perkereta apian Sugiyadi Waluyo dan Bupati
OK Arya mengatakan, pembangunan jalur rel KA di Batubara tersebut dinilai
sangat tepat sebagai jalur perhubungan mengangkut berbagai jenis barang
terutama bahan Crude Palm Oil (CPO) dan peti kemas.
Kawasan
tetangga Batubara tidak lagi harus pergi jauh ke Belawan membawa
barang-barangnya untuk dikapalkan. Tapi cukup di Kuala Tanjung. Hal itu jelas
lebih efisien baik dari sisi dana maupun waktu.
Diperkirakan,
jadwal waktu pembangunan jalur rel KA Batubara tersebut selesai dalam waktu
satu tahun. Dan Kemhub berusaha maksimal memperjuangkan program Pemkab Batubara
itu.
Bila jalur
rel KA tersebut jadi kenyataan, jelas Batubara akan lebih maju dan berkembang.
Pendapatan perkapita warganya akan meningkat, katanya.
Bupati OK
Arya mengulangi penjelasannya, selain jalur rel KA ke Kuala Tanjung bila
memungkinkan jalur sama dilanjutkan sampai Tanjung Tiram.
Bupati Batubara itu juga mengucapkan terima kasih
kepada Dirjen Perkereta Apian Kemhub dan staf yang berkenan datang meninjau
daerahnya. Mudah-mudahan program pengembangan jalur perhubungan Batubara itu
segera terwujud, katanya. (al)Selasa, 20 April 2010
Meraih Untung dari Kerajinan Tas Lidi
Dari masa ke masa, tas menjadi perlengkapan tak terpisahkan bagi kaum hawa. Dalam setiap aktivitasnya, perempuan selalu menenteng barang satu ini. Jangan heran jika produsen tas juga rajin menggelontorkan model baru ke pasar.
Bahkan, untuk membuat produk ini berbeda, tak jarang produsen melakukan pelbagai inovasi. Salah satunya, membuat tas dari bahan sapu lidi. Salah satu produsennya adalah Sutarpi (Butik Tas).
Ide membuat tas dari lidi ini terbersit dui benak Sutarpi saat ia mencari bahan baku tas yang lebih murah. “Ketika krisis, saya mencari ide mendapatkan bahan baku tas yang murah,” tutur perempuan yang telah menggeluti usaha produksi tas sejak 1994 ini.
Bermodalkan duit Rp 1 juta buat membeli batang-batang lidi, sejak awal 2008, perempuan berusia 35 tahun ini mulai menjalankan produksi tas berbahan baku lidi.
Dibantu empat orang karyawan, Sutarpi merangkai batang-batang lidi menjadi sebuah tas. Tentu, batang lidi itu sebelumnya telah diwarnai agar lebih menarik. Di kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, Sutarpi mulai memperkenalkan tas lidi buatannya itu ke masyarakat.Meski terbilang barang baru, ternyata banyak yang kecantol dengan tas lidi Sutarpi.
Dalam waktu singkat, ia bisa meraup omzet Rp 300.000 sehari dari jualan tas lidi. “Ini kan jenis baru. Jadi, banyak orang suka dengan tas lidi saya,” katanya.
Permintaan yang terus meningkat memaksa Sutarpi menambah jumlah karyawannya menjadi enam orang. Bahkan, ia kadang harus menambah jumlahnya menjadi 10 orang, jika ada pesanan dalam jumlah besar.
Sejauh ini, Sutarpi relatif tidak menemui kesulitan soal pasokan bahan baku. Sebab, selain harga lidi relatif murah, barangnya juga mudah didapat. “Saya membelinya di pasar,” ujarnya.
Bicara soal pemasaran, Sutarpi menggunakan dua cara: tradisional dan modern. Cara tradisional adalah dengan menjajakan sendiri barang dagangannya hingga menitip ke kios. Sedangkan cara modern, ia memasarkan produknya lewat dunia maya. “Tapi, selama ini, promosi lewat internet masih belum maksimal,” akunya.
Bagi Anda yang tertarik mencoba bisnis atau ingin membuka Butik Tas lidi ini, ada beberapa tip menarik dari Sutarpi.
Pertama, siapkan modal minimal Rp 1 juta buat membeli bahan baku lidi. “Perkiraan saya, uang segitu mampu memproduksi hingga 50 tas lidi per hari,” ujar Sutarpi.
Kedua, cari pekerja yang ulet dan mahir merangkai lidi menjadi tas nan apik. Maklum, membuat tas ini cukup sulit.
Ketiga, Anda harus jeli melihat selera pasar yang mudah berubah. “Makanya, sekarang saya memadukan bahan lidi dengan aksesori akar wangi, enceng gondok, dan bahan lainnya,” papar Sutarpi.
bisniskeuangan.kompas.com
Minggu, 17 Mei 2009
Pilkades Tahun 2009 diKecamatan Bandar Masilam Sukses
Dua desa di Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun,Sumatera Utara, rampung menggelar pemilihan kepala desa (pilkades), sehubungan dengan berakhirnya masa jabatan kades yang lama di kedua desa tersebut.
Desa Bandar Masilam-I menggelar Pilkades pada Rabu (13/5) yang dimenangkan Werly Willi Siregar dengan meraih 920 suara. Kandidat lainnya Ahmad Feri Saragih meraih 653 suara dan 45 suara dinyatakan batal. Sebelumnya Desa Bandar Masilam-I dipimpin Kades Ali Ahad Saragih, yang memangku jabatan tersebut selama dua masa bakti. Desa ini merupakan pusat pemerintahan kecamatan Bandar Masilam.
Dalam pilkades di Desa Bandar Tinggi, juga Kecamatan Bandar Masilam, Irwansyah unggul dengan 968 suara, sedangkan lawannya Asnawi Effendi meraih 888 suara. Sebelumnya Bandar Tinggi dipimpin Kades Sumarno yang sudah dua periode memimpin desa tersebut.
Sabtu, 25 April 2009
Sejarah Suku Simalungun
Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun,
tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal
dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :
1. Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.
2. Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
Terbentuknya Simalungun
Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga:
• Saragih
• Sinaga
• Purba
Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:
• Silou (Purba Tambak)
• Tanoh Djawa (Sinaga)
• Raya (Saragih)
Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita “Hattu ni Sapar” yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi “Laut Tawar” (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).
Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
Kehidupan masyarakat Simalungun
Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
Kepercayaan
Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).
Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.
Marga-Marga
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR, yaitu:
• Sinaga
• Saragih
• Damanik
• Purba
Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah:
1. Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:
• Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
• Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
• Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.
2. Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Keturunannya adalah:
• Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
• Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.
Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:
• Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
• Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak.
Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :
1. Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.
2. Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
Terbentuknya Simalungun
Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga:
• Saragih
• Sinaga
• Purba
Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:
• Silou (Purba Tambak)
• Tanoh Djawa (Sinaga)
• Raya (Saragih)
Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita “Hattu ni Sapar” yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi “Laut Tawar” (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).
Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
Kehidupan masyarakat Simalungun
Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
Kepercayaan
Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).
Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari “Datu” (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.
Marga-Marga
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR, yaitu:
• Sinaga
• Saragih
• Damanik
• Purba
Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah:
1. Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:
• Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
• Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
• Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.
2. Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Keturunannya adalah:
• Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
• Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.
Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:
• Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
• Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak.
Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.
Jumat, 06 Februari 2009
Hari Jadi ke-6 Kecamatan Bandar Masilam
Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam ke-6 Jatuh pada tanggal 4 Februari 2009. Pelaksanaan peringatan ini diawali dengan jalan santai masyarakat Kecamatan Bandar Masilam, senam aeroik bersama dan ditandai dengan pemukulan gong tanda dibuka rangkaian kegiatan Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam.
Kegiatan Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam diisi dengan kegiatan olahraga dan pertunjukan kesenian. Perlombaan dan pertandingan olahraga dilaksanakan seperti kasti antar TP.PKK Nagori se-Kecamatan Bandar Masilam, bola volley, bulutangkis, margalah dan olahraga tradisonal lainnnya. Sedangkan kesenian dilaksanakan pada malam hari dari masing-masing etnis yang ada di Kecamatan Bandar Masilam seperti suku Simalungun menampilkan pagelaran tor-tor simalungun, suku jawa dengan pagelaran jarang kepang, suku mandailang dengan pagelaran drama dengan diringi gondang sipitu.
Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam juga dimeriahkan dengan hiburan rakyat lainnya seperti pertandingan Nasyid dan keyboard. Disamping itu untuk memeriahkan acara, hari jadi juga dimeriahkan dengan 40 stand bazar, stand Partai Politik, stand sekolah, stand etnis yang ada di Kecamatan Bandar Masilam.
Puncak Peringatan Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam ke-6 Tahun 2009 yang dirangkai dengan pelatikan DPC. Pujakesuma, DPC. IKEIS, DPC. UPAS Kecamatan Bandar Masilam dan ditandai dengan pemukulan Gong sebanyak 6 kali oleh Bupati Simalungun. Dan pada malam penutupan dilakukan penyerahan piala dan dilanjutkan dengan pesta kembang api. Semoga Kecamatan Bandar Masilam dapat lebih maju...
Kegiatan Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam diisi dengan kegiatan olahraga dan pertunjukan kesenian. Perlombaan dan pertandingan olahraga dilaksanakan seperti kasti antar TP.PKK Nagori se-Kecamatan Bandar Masilam, bola volley, bulutangkis, margalah dan olahraga tradisonal lainnnya. Sedangkan kesenian dilaksanakan pada malam hari dari masing-masing etnis yang ada di Kecamatan Bandar Masilam seperti suku Simalungun menampilkan pagelaran tor-tor simalungun, suku jawa dengan pagelaran jarang kepang, suku mandailang dengan pagelaran drama dengan diringi gondang sipitu.
Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam juga dimeriahkan dengan hiburan rakyat lainnya seperti pertandingan Nasyid dan keyboard. Disamping itu untuk memeriahkan acara, hari jadi juga dimeriahkan dengan 40 stand bazar, stand Partai Politik, stand sekolah, stand etnis yang ada di Kecamatan Bandar Masilam.
Puncak Peringatan Hari Jadi Kecamatan Bandar Masilam ke-6 Tahun 2009 yang dirangkai dengan pelatikan DPC. Pujakesuma, DPC. IKEIS, DPC. UPAS Kecamatan Bandar Masilam dan ditandai dengan pemukulan Gong sebanyak 6 kali oleh Bupati Simalungun. Dan pada malam penutupan dilakukan penyerahan piala dan dilanjutkan dengan pesta kembang api. Semoga Kecamatan Bandar Masilam dapat lebih maju...
Langganan:
Postingan (Atom)